PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN
KELAS
A. Sumber Pelanggaran Disiplin
Adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu
merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan. Pengenalan
terhadap kebutuhan siswa secara baik merupakan andil yang besar bagi
pengendalian disiplin.
Maslow mengemukakan teori “hierarchi kebutuhan manusia” yang dapat
digambarkan dalam bentuk berikut ini.
Berdasarkan Kebutuhan Manusia terlihat bahwa kebutuhan
manusia meliputi kebutuhan-kebutuhan berikut ini.
1. Kebutuhan fisik (physical needs) manusia yaitu merupakan kebutuhan
dasar bagi kelangsungan hidupnya. Kebutuhan tersebut seperti makan,
perlindungan (rumah, pakaian), seks dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman (security and safety),
yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan
terhadap masa depan yang dihadapinya.
3. Kebutuhan rasa memiliki dan cinta kasih (love and belonging) yaitu
berupa kebutuhan mencintai orang lain dan mencintai orang lain, penerimaan,
pembenaran, dan cinta orang lain pada dirinya.
4. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu
kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh terhadap
orang lain, dan sebagainya.
5. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding)
terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang
bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif.
6. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self
actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman
mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari
pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran, dan spontan (Maslow dalam
M.Entang dan T.Raka Joni: 24-25).
Secara berurutan, manusia menghendaki terpenuhinya semua kebutuhan tersebut
yang diperoleh dengan cara yang wajar, umum sesuai dengan tata aturan yang
berlaku. Bila kebutuhan ini tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang
sudah biasa dalam masyarakat, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada diri
individu, dan yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara-cara lain
yang sering kurang diterima masyarakat. Mengambil logika seperti itu, mungkin
pula pelanggaran disiplin di sekolah bersumber pada lingkungan sekolah yang
tidak memberi pemenuhan terhadap semua kebutuhan peserta didik khususnya,
misalnya:
1. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah otoriter yang senantiasa mendiktekan
kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan subjek didik. Perbuatan seperti itu
akan mengakibatkan peserta didik menjadi berpura-pura patuh, apatis atau
sebaliknya. Hal ini akan menjadikan siswa agresif yaitu ingin berontak terhadap
kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima.
2. Pengebirian akan hak-hak kelompok besar anggota sebagai peserta didik oleh
sekolah/guru. Dengan pengebirian atau pengurangan hak-hak tersebut akan
menyuramkan masa depan peserta didik, padahal di sisi lain mereka seharusnya
turut menentukan rencana masa depannya di bawah bimbingan guru.
3. Sekolah/guru tidak atau kurang memperhatikan kelompok minoritas baik yang
ada di atas atau di bawah rerata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya
dengan kehidupan sekolah.
4. Sekolah/guru kurang melibatkan dan mengikutsertakan para peserta didik
dalam keikutsertanya bertanggung jawab terhadap kemajuan sekolah sesuai dengan
kemampuannya.
5. Sekolah/guru kurang memperhatikan latar belakang kehidupan peserta didik
dalam keluarga ke dalam subsistem kehidupan sekolah.
6. Sekolah kurang mengadakan kerjasama dengan orang tua dan antara keduanya
juga saling melepaskan tanggungjawab.
Masalah disiplin adalah merupakan indikasi penyimpangan perilaku dikalangan
murid-murid misalnya: malas ke sekolah, membuat keributan, suka berkelahi,
dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang karena terjadi pelanggaran nilai,
norma dan ketentuan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh sekolah maupu yang
ditetapkan oleh guru sendiri.
Munculnya perilaku yang menyimpang disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1. Faktor Internal
Yaitu faktor yang
bersumber dari daam diri peserta didik yang disebabkan karena inpilikasi
perkembangannya sendiri, misalnya: kebutuhan yang tidak terpuaskan, haus kasih
sayang dari ke dua orang tuanya, kurang cerdas, dan sebagainya
2. Faktor Eksternal
Faktor yang bersumber
dari luar diri murid, seperti : pelajaran yang sulit difahami, cara guru
mengajar tidak efektif, situasi kelas yang tidak nyaman dan sebagainya. Untuk
mengatasi perilaku yang menyimpang guru hendaknya mawas diri, meningkatkan
konsep pemahaman diri.
Terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah
yang dapat mengganggu terpeliharanya disiplin kelas. Faktor-faktor tersebut
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang
ditimbulkan guru, siswa, dan lingkungan (Hollingsworth, Hoover, 1991 : 69-71).
1. Masalah-masalah yang ditimbulkan guru
Pribadi guru sangat
mempengaruhi terciptakan suasana disiplin kelas yang efektif. Guru yang
membiarkan peserta didik berbuat salah, tidak suka kepada peserta didik, lebih
mementingkan mata pelajaran daripada peserta didiknya, kurang menghargai
peserta didik, kurang senang, kurang rasa humor akan mengalami banyak gangguan
dalam kelas.
a. Anak yang suka “membadut” atau berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik
perhatian di kelas;
b. Anak dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian dari orang
tuanya;
c. Anak yang sakit;
d. Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah;
e. Anak yang kurang tidur (karena melek mata sepanjang malam);
f. Anak yang malas membaca atau tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah;
g. Anak yang pasif atau potensi rendah yang datang ke sekolah sekedarnya;
h. Anak yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang kepada semua peraturan;
i.
Anak memiliki rasa pesimis atau putus asa
terhadap semua keadaan;
j.
Anak yang berkeinginan berbuat segalanya
dikuasai secara “sempurna”.
Sedangkan gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat
berupa ketidakpuasan dengan pekerjaan kelas; hubungan interpersonal lemah;
gangguan suasana kelompok; pengorganisasian kelompok lemah; emosi kelas dan
perubahan mendadak (Ornstein, 1990 : 71).
a. Ketidakpuasan dengan pekerjaan kelas
Ketidakpuasan ini dapat
disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit; beban terlalu
ringan atau terlalu berat; penugasan cenderung kurang terbuka karena mereka
tidak siap; latihan pembelajaran bersifat verbal kurang menekankan pada
keterampilan dan manipulasi aktivitas; penugasan kurang terjadwal tidak
sistematis atau membingungkan.
b. Hubungan interpersonal lemah
Hubungan interpersonal
lemah dapat disebabkan pengelompokkan didasarkan pertemanan atau klik; peran
kelompok sangat lemah.
c. Gangguan suasana kelompok
Gangguan suasana
kelompok disebabkan oleh suasana tercekam; kompetitif yang berkelebihan; sangat
eksklusif (kelompok menolak individu yang tidak siap).
d. Pengorganisasian kelompok lemah
Pengorganisasian
kelompok lemah ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya
supervisi dan pengawasan; standar perilaku terlalu tinggi atau rendah; kelompok
diorganisir terlalu ketat (banyak aturan) atau terstruktur; pengorganisasian
kurang memperhatikan unsur perkembangan usia, latar belakang sosial, kebutuhan,
atau kemampuan anggota kelompok.
e. Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Emosi kelompok dan
perubahan mendadak dapat diakibatkan karena kelompok memiliki watak temperamen
kekhawatiran tinggi; kejadian depresi yang mendadak; ketakutan atau kegemparan;
kelompok dihinggapi rasa bosan, kurang berminat atau emosionalnya lemah.
2. Masalah yang ditimbulkan lingkungan
Langsung atau tidak
langsung lingkungan, situasi, atau kondisi yang mengelilingi peserta didik
merupakan masalah yang potensial menimbulkan terjadinya gangguan disiplin
kelas. Lingkungan, situasi, atau kondisi tersebut adalah :
a. Lingkungan rumah/keluarga, seperti : kurang perhatian, ketidakteraturan,
pertengkaran, ketidak harmonisan, kecemburuan, masa bodoh, tekanan, sibuk urusannya
masing-masing.
b. Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti : lingkungan kriminal,
lingkungan bising, lingkungan minuman keras.
c. Lingkungan sekolah, seperti : kelemahan guru, kelemahan kurikulum,
kelemahan manajemen kelas, ketidaktertiban, kekurangan fasilitas.
d. Situasi sekolah, seperti : hari-hari pertama dan hari-hari akhir sekolah
(akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal
yang kaku/jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, bau makanan dari
cafetaria, suasana gaduh dari praktik pelajaran musik/bengkel ruang sebelah.
B. Peraturan dan Tata Tertib Kelas
Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di
sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatihkan dan
memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peraturan dan
tata tertib kelas yang diterapkan setiap hari dan dengan kontrol yang terus
menerus maka siswa akan terbiasa berdisiplin.
Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib
kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan
secara terus menerus. Peraturan dan tata tertib merupakan sesuatu untuk
mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus
dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang
sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru
jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya.
Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk aktivitas khusus.
Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara bendera; peminjaman buku
perpustakaan (Suharsimi Arikunto, 1993:122-123).
Peraturan dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum
dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen
Dikdasmen, 1996:79-81) antara lain harus memuat hal-hal berikut ini.
1. Masuk sekolah
a. Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran
dimulai.
b. Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian
keluar kelas.
c. Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus hadir lebih awal.
d. Siswa yang sering terlambat harus diberi teguran.
e. Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum
atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
f. Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
2. Masuk kelas
a. Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
b. Ketua kelas menyiapkan barisan
c. Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya
masing-masing.
d. Guru memeriksa kerapian, kebersihan, dan kesehatan siswa satu persatu;
kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.
3. Di dalam kelas
a. Berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang siswa.
b. Memberi salam kepada guru dan pelajaran dimulai.
c. Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta alasan/keterangan
mengapa tidak masuk.
d. Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh
ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan
pelajaran.
e. Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan tertentu.
f. Guru juga tidak diperkenankan meninggalkan kelas ketika pelajaran
berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar kelas.
4. Waktu istirahat
a. Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib.
b. Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
c. Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
d. Selama istirahat siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah tanpa ijin.
e. Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk kelas
dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
f. Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel masuk
berbunyi.
5. Waktu pulang
a. Ketika bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan doa dan
salam kepada guru.
b. Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas,
pekerjaan rumah dan sebagainya.
c. Siswa keluar kelas dengan tertib.
DAFTAR PUSTAKA
Rohani Ahmad, 2004, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta
Rachman, Maman. 1997. Manajemen Kelas. Semarang:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Ditunggu karya lainnya kak👍
BalasHapusBagusss kakk
BalasHapusSangat bermanfaat👍
BalasHapusMatrinya bagus kak..semoga bisa di terapkan dilapangan kak
BalasHapusMaterinya bagus kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusNtaps
BalasHapusTerima kasih sangat membantu
BalasHapussangat membantu
BalasHapusSangat menarik,🙏
BalasHapusTerimakasih kak. Sangat membantu sekali.
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat membantu saya dalam memahami materi ini
BalasHapusMateri nya bagus dan sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya sangat bagus kak
BalasHapusterima kasih kak, sangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusBagus sekali kak
BalasHapusTerima kasih atas materinya 🙏
BalasHapus