TUGAS 3
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang :
“MANAJEMEN KELAS”
OLEH :
INSANI PUTRI REZONA
1620144
DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M. Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
A. KONSEP PENGELOLAAN KELAS
Sekolah sebagai lembaga formal
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang cukup berat, terlebih lagi semakin
banyak tuntutan masyarakat dan semakin kompleksnya permasalahan pendidikan
seiring dengan kemajuan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Mengingat hal
tersebut, sekolah senantiasa diarahkan untuk mampu melaksanakan peranannya
dalam menghasilkan manusia Indonesia yang siap dan mampu menghadapi dinamika
kehidupan, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Untuk menciptakan
situasi belajar mengajar seorang guru harus memiliki salah satu kemampuan yaitu
“kemampuan mengelola kelas” yang mana kegiatan mengelola kelas menunjuk pada
kegiatan-kegiatan yang menciptakan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar mengajar.
Kegiatan guru selain mengajar juga
melakukan kegiatan mengelola kelas, yaitu proses mengatur, mengorganisasi
lingkungan yang ada di sekitar pembelajaran termasuk komponen pembelajaran yang
meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat,
sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan.
Jadi pengelolaan kelas tidak hanya
berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas, melainkan juga
mengelola berbagai hal yang tercakup dalam kompnen pembelajaran. Kegiatan
pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan
kondisi kelas yang kondusif. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung
secara efektif dan efesien. Efektif berarti tercapainya tujuan sesuai dengan
perencanaan yang dibuat secara tepat. Efesien adalah pencapaian tujuan
pembelajaran sebagaimana yang direncanakan dengan lebih cepat. Kedua tujuan ini
harus dicapai dalam kelas, karena di kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu
dan berproses.
Bahkan hasil dari pendidikan secara
keseluruhan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu
sudah selakyaknya kelas dikelola dengan baik, profesional, dan harus
terus-menerus dalam perbaikan (continoues improvment).
Djamaroh menjelaskan bahwa
masalah yang dihadapi pembelajar, baik pemula maupun sudah berpengalaman adalah
pengelolaan kelas. Aspek yang sering didiskusikan oleh penulis profesional dan
pembelajar adalah juga pengelolaan kelas”. Oleh karena itu, setiap pembelajar
harus senantiasa mengembangkan potensi diri baik pada aspek substansi materi
yang diajarkan maupun pada aspek penunjang keberhasilan seperti
pengelolaan kelas ini. Pengelolaan kelas diperlukan karena dari waktu ke waktu
tingkah laku dan perbuatan pembelajar selalu berubah. Hari ini pembelajar
dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi
persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya di masa mendatang boleh
terjadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk
perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional pembelajar. Kegagalan seorang
guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru
mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid
rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena
itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
1. Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan merupakan terjemahan dari
kata “managemen” asal kata dari Bahasa Inggris yang diindonesiakan menjadi
“manajemen” atau menejemen. disebutkan bahwa pengelolaan berarti
penyelenggaraan. Dilihat dari asal kata “manajemen” dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola
dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Sebelum kita membicarakan definisi
pengelolaan kelas terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa sebenamya yang
dimaksud dengan kelas.
a. Kelas dalam arti sempit yaitu ruangan
yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk
mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian tradisional mengandung
sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokkan siswa menurut tingkat
perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologisnya
masing-masing.
b. Kelas dalam arti luas adalah suatu
masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai
kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan
kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
c. Ditinjau dari sudut pandang didaktik
terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas yakni kelas adalah sekelompok
siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.
B. Tujuan
Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolahan kelas yaitu agar setiap anak di kelas
dapat belajar dengan tertib sehinga tercapai tujuan pembelajaran secara
efektif dan efesien.[4]
Adapun tujuan pengelolahan kelas pada hakikatnya telah
terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolahan kelas
adalah penyedian fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingungan sosial, emosianal, dan intelektual dalam kelas.
1.
Menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah
sebagai berikut: Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan
belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk
mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi
terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3.
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang
mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial,
emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4.
Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial,
ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Adapun tujuan pengelolahan kelas lainnya adalah:
1.
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat
menghalangi terwujudnya lingungan sosial, emosional dan intelektual siswa di
kelas.
2.
Membina dan membimbing siswa sesuai dengan
latar belakang ekonomi, sosial, budaya serta sifat-sifat individunya.
3.
Terciptanya suasana atau kondisi belajar
mengajar yang kondusif(lancar,di siplin, dan bergairah)
4.
Terjadinya hubungan baik antara guru dengan
siswa, siswa dengan siswa.
Dengan menerapkan pengelolaan kelas diharapkan siswa
mampu untuk menjadi peserta yang aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran,
yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajar, yang
menemukan informasi untuk menjawab pertanyaannya, dan yang membangun serta
sumber-sumber yang didapatinya. Dengan demikian pengelolaan kelas yang
berorientasi pada siswa adalah suatu langkah yang efektif dan efisien yang mengembalikan
serta menunjang cara belajar ke proses yang aktif ke setiap anak.
C. PROSES
PENGELOLAAN KELAS
Dalam pengelolaan kelas harus dilaksanakan dengan
prosedur tertentu, yang mana prosedur ini merupakan langkah yang dilalui guru
dalam kegiatan belajar mengajar, paling tidak akan mengarahkan proses
pengelolaan kelas yang lebih terarah dan teratur. Untuk itu terdapat dua
prosedur pengelolaan kelas, yaitu prosedur bersifat Preventif (pencegahan),
dan prosedur yang bersifat Kuratif (penyembuhan).
1.
Prosedur Preventif (pencegahan)
Merupakan
mencegah suatu tindakan sebelum adanya penyimpangan khususnya didalam kelas
agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Prosedurnya antara lain:
a.
Peningkatan kesadaran diri sebagai guru,
sehingga guru dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang
merupakan modal dasar dalam melaksanakan tugasnya.
b.
menghindarkan diri peserta didik dari sikap
yang tidak terpuji, seperti sikap malas, sikap mudah putus asa, mudah ,marah,
mudah kecewa, mudah tertekan oleh peraturan sekolah dan sebagainya. Selain itu,
guru juga sebaiknya memperhatikan kebutuhan, keinginan dan memberikan dorongan
pada siswanya, menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati dan
rasa keterbukaan antara guru dan siswa.
c.
Sikap polos dan tulus dari guru, sehingga
guru dapat mempengaruhi lingkungan belajar siswa. Karena tingkah laku, cara
menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon oleh para
siswa.
d.
Mengenal dan menemukan alternatif
pengelolaan. Sebaiknya guru dapat mengidentifikasi tingkah laku siswa yang
menyimpang baik bersifat individual maupun kelompok, atau bahkan penyimpangan
yang disengaja. Dan juga guru sebaiknya belajar dari berbagai pengalaman
guru-guru lainnya yang gagal ataupu yang berhasil, untuk mencari
alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai persoalan pengelolaan
kelas.
e.
Menciptakan kontrak sosial. Yaitu sebuah
daftar aturan atau kontrak, tata tertib beserta sanksinya yang mengatur
kehidupan di kelas yang mana harus disetujui oleh guru dan siswa.
2.
Prosedur Kuratif (Penyembuhan)
Merupakan
tindakan tingkah laku yang menyimpang yang sudah terlanjur terjadi agar
penyimpangan tersebut tidak berlarut-Iarut dan mengembalikannya dalam kondisi
yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses belajar.
Adapun
langkah-langkahnya yaitu:
a.
Mengidentifikasi masalah, gunanya untuk
mengenal dan mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas.
b.
Menganalisis masalah, guru menganalisis
penyimpangan siswqa dan menyimpulkanlatar belakang dan sumber-sumber dari
penyimpangan, selanjutnya menentukan alternatif penanggulangannya.
c.
Menilai alternatif pemecahaan, guru menilai
alternatif pemecahan yang sesuai, kemudian memilih alternatif pemecahan yang
dianggap sudah tepat serta melaksanakannya.
d.
Mendapatkan balikan, guru melakukan kilas
balik agar alternatif pemecahan yang dipilih tadi sesuai target yang
sudah direncanakan. Dengan cara guru membentuk pertemuan dengan peserta
didiknya untuk perbaikan dan kepentingan siswa dan sekolah, semata-mata untuk
kepentingan bersama.
Prosedur kelas harus
dimonitor dengan baik. Guru juga harus berespons kepada hampir setiap
penyimpangan peraturan atau prosedur. Ketika guru mengumumkan bahwa kelas atas
siswa individu tidak benar mengikuti prosedur, pendekatan terbaik adalah untuk
meminta siwa menetapkan prosedur yang benar dan kemudian mempraktikkannya.
D. STRATEGI
PENGELOLAAN KELAS DALAM MENINGKATAKAN PROSES BELAJAR
1. Pertama
bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran?
Strategi
menyusun rencana pembelajaran adalah sebagai berikut Kepala sekolah melalui
kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru untuk membuat
program mengajar yang berupa: silabus, Analisa Materi Pelajaran, Program
tahunan, Program Semester, dan Rencana Program Pembelajaran. Pembuatan program
pembelajaran disusun secara bersama-sama melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata
Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya dimantabkan melalui
pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Kabupaten. Selanjutnya
perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum
untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah. Pada saat mengajar,
para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan maksud agar proses
belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang dirumuskan dalam
program bisa tercapai. Dan bila selesai mengajar perangkat mengajar disimpan di
almari guru masing-masing yang telah disediakan oleh sekolah, dengan demikian
bila diperlukan perangkat mengajar sudah ada di sekolah dan terjaga
keamanannya.
2. Kedua,
bagaimana strategi guru dalam membangun kerjasama dengan siswa dalam proses
belajar mengajar
Kegiatan
guru yang profesional merupakan kegiatan atau tugas guru yang rutin yang
dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan profesionalismenya. Dalam
menjalin kerjasama dengan siswa, strategi yang diterapkan oleh guru SMA adalah
sebagai berikut:
(a)
menjalin hubungan baik dengan siswa, (b) berusaha memahami latar belakang
siswa, (c) penguasaan materi dan cara penyajiannya menarik, (d) penggunaan
model mengajar yang bervariasi dan (e) memberi pembinaan khusus bagi siswa
bermasalah.
Pengembangan
sekolah memiliki arti tersendiri bagi sekolah , sehingga sekolah tidak hanya
menjalin kerjasama dengan siswa saja, tetapi sekolah juga menjalin kerjasama
dengan orang tua/wali, perguruan tinggi, instansi pemerintah dan alumni. Adapun
bentuk kerjasamanya adalah sebagai berikut: pengadaan sarana dan fasilitas
sekolah, rekrutmen calon mahasiswa, penyaluran bakat dan minat siswa melalui
kegiatan ektrakurikuler dan pengadaan pembina ekstra kurikuler. Kerjasama dalam
hal ini, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas saja,
melainkan melalui kegiatan sekolah secara keseluruhan yang mengarah pada upaya
peningkatan prestasi belajar siswa.
3. Ketiga,
bagaimana Pemberian Motivasi belajar terhadap siswa
Pemberian
motivasi terhadap siswa adalah sebagai berikut: (a) khususnya siswa kelas tiga
selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pemberian tugas untuk praktek lapangan,
(c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) mengkomunikasikan hasil
belajar siswa melalui papan pengumuman maupun melalui pertemuan dengan orang
tua, (e) pemberian reinforcement, (f) penggunaan media dalam pembelajaran dan (g)
pemberian layanan bimbingan. Dengan pemberian motivasi dalam bentuk pemberian
tugas pada siswa, , hasilnya efektif sekali karena dengan strategi tersebut
mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Keempat,
bagaimana strategi dalam menciptaan Iklim Pembelajaran
Agar
pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan lancar dan efektif, maka
pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, staf dan guru melakukan upaya
berupa: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi berkeliling di lingkungan
sekolah untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan, (b) waka kesiswaan
mengadakan razia di dalam kelas dengan dibantu petugas tatib dan guru
pembimbing, (c) dalam mengajar guru berusaha memahami karakter siswa, (d) guru
berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru memberi
kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran atau masalah
lainnya, dan (f) guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari
pelajaran eksak. Dengan strategi seperti diatas, maka iklim di lingkungan SMA,
memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa
senang dan betah berada di sekolah selama jam efektif kegiatan belajar
mengajar, bahkan hingga sore hari untuk mengikuti kegiatan tambahan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. 1988. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali.
Hadari,
Nawawi. 1989. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta:
Gunung Agung.
Mulyasa
. 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda Karya.
Syaful
Bahri, djamara Zain. 2006 Starategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT
Rineka cipta.
Mantul bana materinyo kak👍
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan di lapangan nantinya🙏
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapussangat membantu sekalii
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat kak
BalasHapusMateri bagus dan bermanfaat
BalasHapusBagus materinya kak
BalasHapussangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusBagus sekali materinya
BalasHapusBagus kak😁
BalasHapusMaterinya bagus kak 😊
BalasHapus