Kamis, 01 Agustus 2019

TUGAS 3 MANAJEMEN KELAS DI SD


TUGAS 3
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang :
“MANAJEMEN KELAS”
   
OLEH :
INSANI PUTRI REZONA
1620144
DOSEN PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI, M. Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019




A.    KONSEP PENGELOLAAN KELAS
Sekolah sebagai lembaga formal mempunyai tugas dan tanggung jawab yang cukup berat, terlebih lagi semakin banyak tuntutan masyarakat dan semakin kompleksnya permasalahan pendidikan seiring dengan kemajuan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Mengingat hal tersebut, sekolah senantiasa diarahkan untuk mampu melaksanakan peranannya dalam menghasilkan manusia Indonesia yang siap dan mampu menghadapi dinamika kehidupan, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Untuk menciptakan situasi belajar mengajar seorang guru harus memiliki salah satu kemampuan yaitu “kemampuan mengelola kelas” yang mana kegiatan mengelola kelas menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang menciptakan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Kegiatan guru selain mengajar juga melakukan kegiatan mengelola kelas, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar pembelajaran termasuk komponen pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat, sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan.
Jadi pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas, melainkan juga mengelola berbagai hal yang tercakup dalam kompnen pembelajaran. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas yang kondusif. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Efektif berarti tercapainya tujuan sesuai dengan perencanaan yang dibuat secara tepat. Efesien adalah pencapaian tujuan pembelajaran sebagaimana yang direncanakan dengan lebih cepat. Kedua tujuan ini harus dicapai dalam kelas, karena di kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses.
Bahkan hasil dari pendidikan secara keseluruhan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selakyaknya kelas dikelola dengan baik, profesional, dan harus terus-menerus dalam perbaikan (continoues improvment).
Djamaroh  menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi pembelajar, baik pemula maupun sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Aspek yang sering didiskusikan oleh penulis profesional dan pembelajar adalah juga pengelolaan kelas”. Oleh karena itu, setiap pembelajar harus senantiasa mengembangkan potensi diri baik pada aspek substansi materi yang diajarkan maupun  pada aspek penunjang keberhasilan seperti pengelolaan kelas ini. Pengelolaan kelas diperlukan karena dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan  pembelajar selalu berubah. Hari ini pembelajar dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya di masa mendatang boleh terjadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional pembelajar. Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
1.      Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “managemen” asal kata dari Bahasa Inggris yang diindonesiakan menjadi “manajemen” atau menejemen. disebutkan bahwa pengelolaan berarti penyelenggaraan. Dilihat dari asal kata “manajemen” dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
Sebelum kita membicarakan definisi pengelolaan kelas terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa sebenamya yang dimaksud dengan kelas.
a.       Kelas dalam arti sempit yaitu ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokkan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologisnya masing-masing.
b.      Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
c.       Ditinjau dari sudut pandang didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas yakni kelas adalah sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.
B.     Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan pengelolahan kelas yaitu agar setiap anak di kelas dapat belajar dengan tertib  sehinga tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien.[4]
Adapun tujuan pengelolahan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolahan kelas adalah penyedian fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingungan sosial, emosianal, dan intelektual dalam kelas.
1.      Menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut: Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.      Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3.      Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4.      Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Adapun tujuan pengelolahan kelas lainnya adalah:
1.      Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya lingungan sosial, emosional dan intelektual siswa di kelas.
2.      Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang ekonomi, sosial, budaya serta sifat-sifat individunya.
3.      Terciptanya suasana atau kondisi belajar mengajar yang kondusif(lancar,di siplin, dan bergairah)
4.      Terjadinya hubungan baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa.
Dengan menerapkan pengelolaan kelas diharapkan siswa mampu untuk menjadi peserta yang aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran, yang bertanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajar, yang menemukan informasi untuk menjawab pertanyaannya, dan yang membangun serta sumber-sumber yang didapatinya. Dengan demikian pengelolaan kelas yang berorientasi pada siswa adalah suatu langkah yang efektif dan efisien yang mengembalikan serta menunjang cara belajar ke proses yang aktif ke setiap anak.

C.    PROSES PENGELOLAAN KELAS
Dalam pengelolaan kelas harus dilaksanakan dengan prosedur tertentu, yang mana prosedur ini merupakan langkah yang dilalui guru dalam kegiatan belajar mengajar, paling tidak akan mengarahkan proses pengelolaan kelas yang lebih terarah dan teratur. Untuk itu terdapat dua prosedur pengelolaan kelas, yaitu prosedur bersifat Preventif (pencegahan), dan prosedur yang bersifat Kuratif (penyembuhan).
1.      Prosedur Preventif (pencegahan)
Merupakan mencegah suatu tindakan sebelum adanya penyimpangan khususnya didalam kelas agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Prosedurnya antara lain:
a.       Peningkatan kesadaran diri sebagai guru, sehingga guru dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar dalam melaksanakan tugasnya.
b.       menghindarkan diri peserta didik dari sikap yang tidak terpuji, seperti sikap malas, sikap mudah putus asa, mudah ,marah, mudah kecewa, mudah tertekan oleh peraturan sekolah dan sebagainya. Selain itu, guru juga sebaiknya memperhatikan kebutuhan, keinginan dan memberikan dorongan pada siswanya, menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati dan rasa keterbukaan antara guru dan siswa.
c.       Sikap polos dan tulus dari guru, sehingga guru dapat mempengaruhi lingkungan belajar siswa. Karena tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon oleh para siswa.
d.      Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan. Sebaiknya guru dapat mengidentifikasi tingkah laku siswa yang menyimpang baik bersifat individual maupun kelompok, atau bahkan penyimpangan yang disengaja. Dan juga guru sebaiknya belajar dari berbagai pengalaman guru-guru lainnya yang gagal ataupu  yang berhasil, untuk mencari alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai persoalan pengelolaan kelas.
e.       Menciptakan kontrak sosial. Yaitu sebuah daftar aturan atau kontrak, tata tertib beserta sanksinya yang mengatur kehidupan di kelas yang mana harus disetujui oleh guru dan siswa.
2.      Prosedur Kuratif (Penyembuhan)
Merupakan tindakan tingkah laku yang menyimpang yang sudah terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-Iarut dan mengembalikannya dalam kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses belajar.
Adapun langkah-langkahnya yaitu:
a.       Mengidentifikasi masalah, gunanya untuk mengenal dan mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas.
b.      Menganalisis masalah, guru menganalisis penyimpangan siswqa dan menyimpulkanlatar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan, selanjutnya menentukan alternatif penanggulangannya.
c.       Menilai alternatif pemecahaan, guru menilai alternatif pemecahan yang sesuai, kemudian memilih alternatif pemecahan yang dianggap sudah tepat serta melaksanakannya.
d.      Mendapatkan balikan, guru melakukan kilas balik agar  alternatif pemecahan yang dipilih tadi sesuai target yang sudah direncanakan. Dengan cara guru membentuk pertemuan dengan peserta didiknya untuk perbaikan dan kepentingan siswa dan sekolah, semata-mata untuk kepentingan bersama.
 Prosedur kelas harus dimonitor dengan baik. Guru juga harus berespons kepada hampir setiap penyimpangan peraturan atau prosedur. Ketika guru mengumumkan bahwa kelas atas siswa individu tidak benar mengikuti prosedur, pendekatan terbaik adalah untuk meminta siwa menetapkan prosedur yang benar dan kemudian mempraktikkannya.

D.    STRATEGI PENGELOLAAN KELAS DALAM MENINGKATAKAN PROSES BELAJAR
1.      Pertama bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran?
Strategi menyusun rencana pembelajaran adalah sebagai berikut Kepala sekolah melalui kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru untuk membuat program mengajar yang berupa: silabus, Analisa Materi Pelajaran, Program tahunan, Program Semester, dan Rencana Program Pembelajaran. Pembuatan program pembelajaran disusun secara bersama-sama melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya dimantabkan melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Kabupaten. Selanjutnya perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah. Pada saat mengajar, para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan maksud agar proses belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang dirumuskan dalam program bisa tercapai. Dan bila selesai mengajar perangkat mengajar disimpan di almari guru masing-masing yang telah disediakan oleh sekolah, dengan demikian bila diperlukan perangkat mengajar sudah ada di sekolah dan terjaga keamanannya.
2.      Kedua, bagaimana strategi guru dalam membangun kerjasama dengan siswa dalam proses belajar mengajar
Kegiatan guru yang profesional merupakan kegiatan atau tugas guru yang rutin yang dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan profesionalismenya. Dalam menjalin kerjasama dengan siswa, strategi yang diterapkan oleh guru SMA adalah sebagai berikut:
(a) menjalin hubungan baik dengan siswa, (b) berusaha memahami latar belakang siswa, (c) penguasaan materi dan cara penyajiannya menarik, (d) penggunaan model mengajar yang bervariasi dan (e) memberi pembinaan khusus bagi siswa bermasalah.
Pengembangan sekolah memiliki arti tersendiri bagi sekolah , sehingga sekolah tidak hanya menjalin kerjasama dengan siswa saja, tetapi sekolah juga menjalin kerjasama dengan orang tua/wali, perguruan tinggi, instansi pemerintah dan alumni. Adapun bentuk kerjasamanya adalah sebagai berikut: pengadaan sarana dan fasilitas sekolah, rekrutmen calon mahasiswa, penyaluran bakat dan minat siswa melalui kegiatan ektrakurikuler dan pengadaan pembina ekstra kurikuler. Kerjasama dalam hal ini, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas saja, melainkan melalui kegiatan sekolah secara keseluruhan yang mengarah pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
3.      Ketiga, bagaimana Pemberian Motivasi belajar terhadap siswa
Pemberian motivasi terhadap siswa adalah sebagai berikut: (a) khususnya siswa kelas tiga selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pemberian tugas untuk praktek lapangan, (c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) mengkomunikasikan hasil belajar siswa melalui papan pengumuman maupun melalui pertemuan dengan orang tua, (e) pemberian reinforcement, (f) penggunaan media dalam pembelajaran dan (g) pemberian layanan bimbingan. Dengan pemberian motivasi dalam bentuk pemberian tugas pada siswa, , hasilnya efektif sekali karena dengan strategi tersebut mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
4.      Keempat, bagaimana strategi dalam menciptaan Iklim Pembelajaran
Agar pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan lancar dan efektif, maka pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, staf dan guru melakukan upaya berupa: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi berkeliling di lingkungan sekolah untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan, (b) waka kesiswaan mengadakan razia di dalam kelas dengan dibantu petugas tatib dan guru pembimbing, (c) dalam mengajar guru berusaha memahami karakter siswa, (d) guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran atau masalah lainnya, dan (f) guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari pelajaran eksak. Dengan strategi seperti diatas, maka iklim di lingkungan SMA, memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa senang dan betah berada di sekolah selama jam efektif kegiatan belajar mengajar, bahkan hingga sore hari untuk mengikuti kegiatan tambahan.











DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1988. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali.
Hadari, Nawawi. 1989. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta: Gunung Agung.
Mulyasa . 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda Karya.
Syaful Bahri, djamara Zain. 2006 Starategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka cipta.


13 komentar:

TUGAS 14 MANAJEMEN KELAS DI SD

Tugas 14 Manajemen Kelas di SD A. Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat     Secara etimologis hubungan masyarakat dite...