PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
A. Pengertian
Prinsip Manajemen Kelas
Untuk mengetahui makna dari prinsip manajemen kelas ini, ada
baiknya terlebih dahulu kita membahas sekilas tentang pengertian dari prinsip
dan manajemen kelas. Prinsip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
Asas, Dasar.
Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas.
Manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu “Management” yang di
Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan,
penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaaan sumber daya secara
efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. Sedangkan
untuk pengertian kelas, penyusun mengambil pendapat dari Hadari Nawawi. Beliau
menyatakan pengertian kelas dalam arti sempit dan luas. Berikut pendapatnya:
1.
Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh
empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar
Mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis
karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya,
antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2.
Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang
merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan
diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan
belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kelas adalah
ruangan belajar yang digunakan untuk belajar oleh sekelompok orang dalam waktu
sama, tingkatan sama, pelajaran yang sama dan dari guru yang sama.
Dari pengertian manajemen dan kelas diatas, beberapa para ahli
berpendapat tentang pengertian manajemen kelas yaitu:
1.
Menurut DR. Hadari Nawawi
Manajemen Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas
dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang
seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan
secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang
berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
2.
Drs. Syaiful Bahri Djamarah
Manajemen Kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan
potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi
edukatif mencapai tujuan pembelajaran.”
Jadi dapat disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah program
yang dibuat oleh guru untuk mendayagunakan secara maksimal potensi
kelas yang terdiri dari tiga unsur yaitu: guru, murid dan proses. Sehingga
tujuan pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efesien serta
mengantisipasi masalah-masalah yang kemungkinan terjadi.
Setelah mengetahui pengertian prinsip dan manajemen kelas, maka
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan prinsip manajemen kelas
adalah acuan yang memiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang
pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal
serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.
B. Permasalahan
dalam prinsip manajemen kelas
Ada dua jenis
masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan
yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan
masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari
yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan
bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan
yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1.
Masalah
Individual
Penggolongan
masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku
manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki
kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang
individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia
akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku,
yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut
balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan
makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian
orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a.
Attention
getting behaviors
(pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan
dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima
biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang
lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada
anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan
kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku
destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang
malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b.
Powerseeking
behaviors (pola
perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) :Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan
perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif
suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
c.
Revenge
seeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan balas dendam) :Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi
yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan
jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar,
menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun
terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan
merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik
(misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya
lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang
aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d.
Helplessness (peragaan
ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak
mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang
bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan
tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku
mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini
selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah
individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku
menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat
merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali
adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa. Diantaranya
yaitu :
a.
Jika
guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari
perhatian.
b.
Jika
guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa
siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c.
Jika
guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d.
bersangkutan
mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya
benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku
siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari
perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan
ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2.
Masalah
Kelompok
Ada tujuh masalah
kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.
Kurangnya
kekompakan : Kurangnya
kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara
para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis
kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini.
Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak
sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa
di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b.
Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa
siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka
masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang mampuan mengikuti peraturan
kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu
padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau
mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat
duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria
dan lain-lain.
c.
Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok
terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota
kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang
dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan
kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh
kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d.
Penerimaan
kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas
tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya
dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma
sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan,
misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi
maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah
kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.
Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan,
berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota)
lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu
dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara
berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan
memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok
itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena
mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana
diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f.
Kurangnya semangat, tidak mau bekerja,
dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit
ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan,
baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan
yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan
tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas
karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes
atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu
disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g.
Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap
lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar
terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan
kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi
sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal
biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan
saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara
tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari
etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan
sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru
sebagai fasilitator, teman dan motivator.
Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang
timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.
Masalah pengarahan : Di waktu merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang
memiliki keterampilan dalam:
a.
Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b.
Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c.
Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d.
Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan
kebutuhan siswa.
e.
Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari
materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa
menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan
kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2.
Masalah evaluasi dan penilaian : Guru dalam tugasnya
untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah
sebagai berikut:
a.
Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b.
Prosedur evaluasi tidak jelas
c.
Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang
efisien dan efektif.
d.
Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak
seragam.
e.
Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f.
Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai
bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi
tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga
tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang
diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan
tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3.
Masalah isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat
perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru
dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai
berikut:
a.
Guru kurang menguasai materi
b.
Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c.
Materi yang diberikan sangat luas
d.
Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan
dengan waktu yang tersedia
e.
Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi
pelajaran.
f.
Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang
diberikannya.
g.
Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran
dari materi pelajaran yang diberikan.
4.
Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran :
Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka
perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa
penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun
dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian
dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah
sebagai berikut:
a.
Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang
menarik dan efektif.
b.
Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran
dan materi pelajaran.
c.
Kurang terampil dalam menggunakan metode
d.
Sangat terikat pada satu metode saja
e.
Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang
dikerjakan siswa.
5.
Masalah hambatan-hambatan : Dalam pelaksanaan
pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a.
Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai
sumber belajar.
b.
Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang
tidak sama.
c.
Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang
kurang.
d.
Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e.
Keadaan sarana yang kurang
f.
Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi
kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar
mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang
bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di
bangku sekolah.
C. Kebijakan tentang prinsip manajemen kelas
1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Pasal 51 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah. “
2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat 1 mengemukakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
3. Permendiknas No. 19 Tahun 2007
Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan memuat secara terperinci tentang :
a) Perencanaan Program
b) Pelaksanaan Rencana
c) Pengawasan dan Evaluasi
d) Kepemimpinan Sekolah atau Madrasah
e) Sistem Informasi Manajemen
f) Penilaian Khusus
DAFTAR PUSTAKA
Asmadawati. 2014. Keterampilan Mengelola Kelas. Jurnal Logaritma. Vol.
II
Asril, Zainal. 2010. Microteaching.
Padang: PT. Raja Grafindo Persada.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Rofiq, M. Aunur . 2009. Pengelolaan Kelas. Malang : Departemen Pendidikan
Nasional.
Sangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan di lapangan nantinya🙏
BalasHapusMantappp kakk👍👍
BalasHapusBermanfaat sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapussangat membantu sekali
BalasHapusTerimakasih kak. Sangat membantu sekali.
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat kak
BalasHapusMateri nya sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusBagus kak materinya
BalasHapusterima kasih kak, sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusBermanfaat banget
BalasHapusSangat bermanfaat..😊
BalasHapusSangat membantu sekali👍
BalasHapus